Laman

Maaf Blog ini telah berpindah domain ke sini

maaf atas ketidaknyamanan ini saya harapkan pengertian dari para pembaca.

Terima Kasih Telah Membaca Blog Saya

Jumat, 11 September 2009

berpikir realistis ala anak sma

Sepuluh tahun yang lalu, kalau saya dan teman-teman seangkatan ditanya oleh pertanyaan yang biasa ditanya oleh para tetua kami, “Kalo udah gede, mau jadi apa?” atau bentuk lainnya “Cita-cita kamu apa?”, maka pastilah jawaban kami sangat mudah ditebak. Dokter, pilot, direktur, insinyur, artis dll..

Kalau yang sedikit intelek mungkin akan jawab “Anggota DPR!” karena mereka tahu pekerjaan anggota DPR semudah menceboki adik kandung.

Sepuluh tahun kemudian, kami berubah. Jawaban-jawaban di atas tidak lagi menjadi jawaban mutlak. Akuntan, arsitek, ekonom, politisi, psikolog dan profesi lain yang tidak pernah ada dalam benak kami sepuluh tahun yang lalu, malah menjadi mayoritas.

Karena kami tahu, seiring mendewasanya kami, maka semakin kompleks cara berpikir kami. Berapa banyak orang yang enggan jadi dokter karena takut lihat jarum suntik? Berapa banyak orang yang enggan jadi direktur karena melihat ayahnya bangkrut sampai menggadai celana dalamnya?

Pikiran ini mendasari seseorang untuk berpikir ulang tentang cita-citanya. Dalam rentang proses pendewasaan, seseorang akan mulai berpikir pekerjaan mana yang paling cocok dengan bakat dan kemampuannya.

Kalau gambar garis aja nggak lurus, yaa nggak usah jadi arsitek. Kalau menghafal anggota Pandawa Lima aja susah, nggak usah jadi guru sejarah.

Intinya, realitas dalam proses pendewasaan menjadikan seseorang lebih selektif dalam memilih jurusan dan pekerjaannya

Orang-orang yang akan terjun ke dunia universitas menggunakan beberapa acuan untuk memilih jurusan, antara lain :

1. Bakat, Minat dan Kemampuan
Tidak perlu dijelaskan rasanya, sudah jelas.

2. Kondisi Ekonomi
Ini yang membuat kami gentar. Biaya kuliah yang makin hari makin selangit membuat kami berpikir ulang. Sekedar info, biaya masuk universitas dengan jalur biasa (denger-denger) mencapai 100 juta! Sungguh gila negara ini, pendidikan tinggi aja susah.

3. Prospek Kerja
Ini nggak kalah penting. Buat apa susah-susah kuliah sampe senewen tapi ujung-ujungnya nggak ada tempat untuk menampung ilmu kita?? Sebagai contoh, di UGM ada jurusan Teknik Nuklir. Denger-denger lulusan sana susah dapet kerja karena fasilitas pengembangan energi nuklir di Indonesia emang sedikit. Mereka yang emang niat di bidang ini, risetnya biasanya di luar negeri.

4. Peluang Balik Modal
Ini yang paling vital. Biaya kuliah yang kita keluarkan kelak seenggaknya harus sebanding sama pendapatan di dunia kerja kelak. Misalkan untuk jadi dokter spesialis paru-paru. Mereka emang dibayar mahal untuk jasa mereka, tapi ingat, mereka bisa jadi mengeluarkan uang lebih banyak di kampus dulu. Misal biaya kuliah sampai spesialisasi paru sampe 2 milyar, nah pendapatan dia per bulan 10 juta, tapi dengan catatan negara mengalami inflasi karena nilai tukar makin hari makin ancur. Bisa jadi 10 juta saat dia praktek nilainya lebih rendah daripada saat dia kuliah. Waah udah nggak bisa pake matematika biasa ngitungnya…

Susah ya mengejar mimpi.

Tapi tenang masih banyak jalan menuju Roma. Lagipula ada segelintir orang yang bekerja bukan untuk uang, tapi untuk ilmu pengetahuan dan kepuasan. Salut deh untuk mereka.

Satu yang pasti, apapun cita-cita Anda, apapun masalah Anda, yakinlah bahwa Allah akan membantu Anda menyelesaikannya. Tapi ingat, campur tangan-Nya hanya akan menolong ketika Anda sudah benar-benar mengeluarkan seluruh usaha Anda.

Tetaplah bermimpi, jadilah pemberani, karena kelak nasib akan membuktikan jati dirinya yang hakiki bahwa mereka hanya akan memihak kepada para pemberani.

0 komentar:

Related Posts with Thumbnails